Archive for the ‘Pengalaman’ Category

Perjalanan Ibadah Haji ( bagian 4 )

Juli 12, 2007

Di masjid Nabawi diberlakukan sistem tutup menggunakan sekat maksudnya jika shof depan sudah penuh maka dibagian roudhoh itu diberi sekat sampai beberapa shof sebelah kiri.  Mungkin kalau di Indonesia seperti pemisahan antara laki-laki dan perempuan. Penggunaan sekat di masjid Nabawi dimaksudkan juga untuk para wanita yang ingin mendapatkan tempat di roudhoh ketika mulai waktu dhuha hingga pukul 11 siang namun bukan berarti untuk jamaah laki-laki tidak ada tapi roudhoh dibagi dua, depan untuk laki laki dan belakang untuk wanita. Jika mau ke tempat roudhoh berputar dari arah kanan ke tengah, namun masih di dalam mesjid. Gak kebayang yah….. kalau mau kebayang…ya pergi haji 😀 

Lama banget menunggu sholat subuh….bayangin coba (hmmm ntar dibayangin dulu) dari jam 2 dini hari dan ternyata sholat subuh jam 5.30 pagi karena di arab saudi pas desember itu siangnya dikit gak kayak di Indonesia panasnya lama. Dingin banget…untung pakai jaket tebal dan sarung tangan…ya sambil nahan pengen pipis akhirnya datangnya juga waktu adzan subuh (Bagi yang “beser” mungkin agak menjadi suatu penderitaan ketika berada di tempat yang dingin namun usahakan ditahan soalnya jika keluar masjid untuk buang air kecil kemungkinan masuk lagi ke masjid itu kecil sekali tapi kalau sudah tidak tahan ya gimana lagi). Muadzdzin melafadzkan adzan begitu mengena ke hati. Saat sholat subuh, imam ketika selesai Al Fatihah membaca amin secara cepat tapi para jemaah yang kebetulan dari asia tenggara sudah banyak, membacanya aaaamiiiin secara panjang persis seperti yang dilakukan jemaah ketika sholat di Indonesia.

Selesai sholat subuh saya menunggu supaya agak sepi baru saya ke roudhoh. Alahmdulillah saat dhuha saya bisa ke roudhoh dan melakukan sholat serta mengaji Al Qur’an. Saya panjatkan doa, mohon ampunan bagi saya, almarhum orang tua dan doa lainnya. Sambil meneteskan air mata saya bisa berdoa di tempat yang maqbul.

Selepas sholat saya mengunjungi makam Rosululloh saw sambil berdoa dan memberikan salam serta sholawat bagi rosul dan keluarga. Para penjaga sibuk menghardik para jemaah yang mengelus eluskan tangannya ke tembok sambil berkata “haram”. Sangat berdesak desakkan tatkala saya ingin keluar masjid karena keluar roudhoh lewat ke kiri melewati makam rosul dimana jalur ini padat dipenuhi para jemaah, kemudian selesai mengunjungi makam rosul saya lurus keluar masjid.

Keluar masjid lewat kiri saya mencari warung untuk sarapan.  Beli roti isi daging seharga 3 riyal dan kopi seharga 1 riyal ( 1 riyal berkisar antara Rp 2300 – Rp 2700, saran: untuk membeli riyal jangan pas lagi musim haji, mahal lebih baik sekitar bulan maret-mei biasanya harga murah dan bakalan dapat yang recehan 1-20 riyal). “Murah..murah..bagus..bagus” itulah ucapan para pedagang kaki lima orang arab apalagi kalau melihat orang indonesia karena orang indonesia terkenal sering belanja.

Hotel tempat saya tinggal terletak dibelakang masjid nabawi,  karena saya di barisan shof depan akhirnya saya keluar lewat kiri dan ini berarti saya bakal ketemu para jemaah wanita dan ternyata Alhamdulillah betapa Alloh menciptakan wanita cantik dari berbagai bangsa terutama Pakistan, India, Arab dan Turki(saya sedikit sekali melihat gadis gadis Indonesia karena kebanyakan calon jemaah haji asal Indonesia sudah berusia lanjut lain halnya dari negara lain).  Saat jalan kepala mau ditundukkan takut nabrak, gak ditundukkan kepala nanti gimana akhirnya sambil agak kepinggir mendekati warung, saya berjalan menuju hotel. Akan tetapi mata tetap “sedikit nakal”  🙂

Sampai di hotel saya berkenalan dengan rombongan saya. Di Madinah di atur bahwa laki-laki dipisahkan dengan wanita, ini hasil kesepakatan bersama. Saya bersama sama dengan 5 bapak bapak. Saya mendapatkan kamar di lantai paling tinggi yaitu lantai 14.  Ada untungnya , ada ruginya. Untungnya kalau turun pasti lift dalam keadaan kosong sedang kan kalau di lantai yang dilalui akan mengantri sampai mendapatkan lift yang kosong. Yang lucunya informasi dari Departemen Agama Jakut saat manasik bahwa orang Arab menghargai tamu jika ditempatkan paling tinggi di sebuah hotel ( entah benar atau tidak, wallohu A’lam) namun bagi para jemaah ingin paling bawah supaya tidak terlalu lama kalau ke masjid. Ruginya kalau pas pulang agak lama nyampai ke kamarnya tapi dengan saya ditempatkan di wilayah Markaziyah saja merupakan keberkahan dari Alloh mengingat waktu saat itu masih menggunakan sistem subsidi silang, kalau sekarang proporsional.

Saya telepon ke rumah bahwa saya sudah sampai dan sudah berdoa di roudhoh. Saya diberitahu bahwa di Bandung sudah dilaksanakan hajat. Banyak tetangga yang kaget saya pergi haji. Saya memang sengaja tidak memberitahu mereka sebagai kejutan demikian juga kepada saudara saudara. Saya melakukan hajat sebelum dan sesudah pergi haji hanyalah salah satu bentuk mengucapkan syukur ke Alloh atas nikmat yang tidak terhingga yaitu menjalankan rukun islam yang kelima, menunaikan ibadah haji dan  selamat sampai di rumah dan tentunya mengharapkan haji mabrur. aamiin.

Iklan

Perjalanan Ibadah Haji ( bagian 3 )

Juli 10, 2007

Menggunakan Garuda Indonesia terbang menuju Kota Madinah Al Munawaroh karena gelombang pertama dari Jakarta bisa langsung menuju Madinah ( ini berlaku kalau tidak salah untuk tiga embarkasi yaitu Jakarta, Surabaya dan Medan)  sedangkan yang lain ke Jeddah terlebih dahulu.

Diatas pesawat, pramugari dengan ramahnya melayani para calon jemaah haji. Saat jam tidak melayani saya bercakap cakap dengan para pramugari.

Terlihat pemandangan indah hamparan awan yang meliputi bumi.  Ingin rasanya mengabadikan namun sayang kamera saya tidak cukup untuk menangkap fenomena alam tersebut. Banyak yang tidak membawa kamera bagus karena pada saat saya pergi belum diperbolehkan membawa kamera dan banyak cerita nyata dimana kamera yang ketahuan oleh tentara atau polisi langsung dibanting didepan mata namun sekarang karena untuk menggalakkan pariwisata Arab Saudi diperbolehkan hanya saja untuk memotret didalam dua masjid yaitu masjid nabawi dan masjidil Harom tidak diperbolehkan karena dikhawatirkan bukan beribadah melainkan berfoto ria.

Alam, pesawat, awak pesawat dan penumpang adalah bagian dari suatu penerbangan. Penumpang dengan tingkah lakunya terkadang membuat lucu jika kita melihatnya namun terkadang juga menyebalkan bahkan menjijikkan yang lebih parah adalah membahayakan keselamatan penerbangan karena beragam pendidikan dan latar belakang dari penumpang tersebut. Ini terjadi karena kurangnya sosialisasi Departemen Agama atau pembimbing KBIH ( bagi yang tidak melakukan sosialisasi ) tentang tata cara di pesawat terbang.  Saya melihat banyak hal lucu seperti tidak tahu cara membuka atau menutup pintu toilet, cara menggunakan air atau tissue untuk istinja mengingat jatah air yang sedikit. Namun ada juga resiko bahaya yang besar ketika air tercecer menggenangi  lantai dan ini terjadi di pesawat yang saya tumpangi, segera saya beritahu pramugari untuk membersihkannya. Yang menjijikkan adalah toilet bekas istinja disimpan di barisan toilet bersih bukan dibuang padahal jelas disitu ada plastik besar dan terlihat untuk sampah. Inilah sebagian dari kejadian di pesawat yang tentunya merupakan pekerjaan rumah baik bagi Departemen Agama maupun KBIH yang hendaknya selain memberikan manasik haji juga tata cara di pesawat sehingga selain aman juga nyaman dan selamat sampai di tujuan.

Tiba di bandara Madinah sekitar pukul 11 malam waktu setempat. Di sini mulai timbul masalah, saat di pesawat di instruksikan bahwa calon jemaah menggunakan bis yang sesuai saat keberangkatan dari pondok gede ke terminal namun ternyata melebihi. Supir tidak mau menjalankan bis, karena memang peraturan mereka seperti itu. Saya dan sepasang suami istri yang sama sama rombongan 2 bingung karena rombongan 3 mengatakan kami seharusnya menggunakan bis 2 tapi kami bersikukuh saat di indonesia kami menggunakan bis 3. Namun entah bagaimana semua bis jadi berangkat ke hotel. Alhamdulillah kami berada di daerah markaziyah yaitu daerah sekitar radius kurang dari 500 meter dari masjid Nabawi dan tepatnya kami menempati hotel Anshor Diamond kurang lebih 75 m dari masjid Nabawi. 

Tiba di hotel masih bingung karena saya tidak tahu rombongan saya di kamar dan lantai berapa. Namun saya berpikir toh akhirnya nanti saya mendapatkan kamar hanya perlu bersabar. Saat sedang mencari koper, saya bertemu dengan Karu dan akhirnya saya mendapatkan kamar. Alhamdulillah.

Setelah istirahat sebentar, kami pergi ke masjid sekitar jam 2 dinihari, namun kami mendapati pintu masjid masih dikunci(belakangan saya baru tahu bahwa masjid Nabawi tidak buka 24 jam seperti Masjidil Harom namun ditutup jam 11 malam dan dibuka beberapa jam sebelum sholat subuh).  Kurang lebih jam 4 pintu dibuka, tampak para jemaah berlarian menuju roudhoh termasuk saya. Namun setelah sampai shaf terdepan tampak di daerah roudhoh sudah penuh akhirnya saya kebagian tempat di beberapa baris dibelakang roudhoh. (note= roudhoh itu tempat dikabulkannya doa dan terletak diantara makam nabi Muhammad saw dan mimbar beliau yaitu sekitar 15 m x 20 m. bila ingin lebih jelas lihat pilar-pilar yang berada di roudhoh itu berbeda warnanya dengan tempat lain demikian juga karpetnya berwarna hijau sedangkan yang lain berwarna merah).

Roudhoh tempat makbul doa

Setelah sholat attahiyatul masjid dan mengaji Al quran… saya hanya termenung melihat keindahan masjid dan merenung dimasa rosul menjalankan perintah Alloh. Yang saat itu masjid masih ditutupi pelepah korma kini dilapisi dengan emas murni. Sholawat dan salam bagi baginda rosul dan keluarganya.

Perjalanan Ibadah Haji ( bagian 2 )

Juli 6, 2007

Bulan Juli ( kalau tidak salah)  saat pelunasan BPIH, di hari pertama pelunasan satu dolar mencapai 9500 rupiah. Saya melunasi saat satu dolar mencapai 8750 rupiah. Sehingga total BPIH saya sekitar 24.500.000 rupiah.

Pada bagian 1 saya menulis meminjam uang ke teman maupun saudara. Teman saya bertanya mengenai pergi haji berhutang, saya katakan bahwa pergi haji berhutang berarti dikategorikan belum mampu sedangkan yang saya lakukan adalah untuk mendapatkan porsi dan hutang itu akan dibayar sebelum saya pergi haji sehingga ketika pergi haji saya tidak dalam keadaan berhutang.

Saya pergi haji dengan status haji mandiri maksudnya pergi haji tanpa KBIH ( Kelompok Bimbingan Ibadah Haji ).  Mendapat bimbingan manasik haji dari Kandepag Jakut. Ada hal yang lucu yaitu karena sebagai bujangan yang pergi haji beberapa ibu-ibu menawarkan putrinya untuk menjadi istri saya. Saya hanya tersenyum saja. Begitulah kalau bujangan pergi haji  🙂

Saat manasik saya ditunjuk sebagai ketua regu. Para jemaah haji mandiri dibagi beberapa rombongan. Satu rombongan terdiri dari empat regu dan satu regu terdiri dari sebelas orang (satu kepala regu(karu)  dan sepuluh anggota) sehingga jumlah satu rombongan adalah empat puluh lima orang termasuk ketua rombongan(karom). Banyak yang tidak mau menjadi ketua baik sebagai karu maupun sebagai karom. Padahal kalau mau dipikir selain menjalankan ibadah haji, sebagai karu/karom dia beramal tenaga dan pikiran. Hal ini akan terasa baik ketika masih di Indonesia maupun di tanah suci nantinya. 

Tatkala mau berangkat, sesuai dengan undian saya termasuk ke dalam kelompok terbang (kloter) 3.  Saat melihat hasil undian di kandepag,  agak susah mencari karena ternyata banyak rombongan  yang dipecah termasuk rombongan saya. Saya sempat sedih apa jangan-jangan nama saya tidak tercantum mengingat pernah ada kejadian suami istri dimana istri ada namun suami tidak ada. Sambil menenangkan hati dan pikiran serta berdoa akhirnya saya temukan dimana nama saya tercantum di rombongan dua.

Empat hari menjelang keberangkatan yaitu tanggal 15 Desember 2005 saya cuti. Saya berpamitan ke teman-teman kantor namun banyak yang tidak percaya kalau saya mau pergi haji mengingat saya masih bujangan dan tidak ada tampilan seperti layaknya keluaran pesantren istilahnya “anak nakal”. Kemudian saya pulang ke Bandung terlebih dahulu untuk minta maaf kepada keluarga. Saya mencoba untuk tidak menitikkan air mata di depan saudara terlebih karena kedua orang tua saya sudah meninggal sehingga sangat terasa getaran jiwa didada tatakala seusai sholat hajat dan safar. Tak terasa air mata begitu deras keluar dari mata ini. Sambil bertanya kepada Alloh “Ya Alloh kenapa saudara saya yang rajin sholat wajib, tahajud, rajin mengaji Al Quran tidak berangkat haji sedangkan saya, sholat pun istilahnya lekum lekum gajleng. Kenapa saya yang dipilih ya Alloh……. ” Agak lama uraian air mata keluar. Setelah berapa lama dan mulai dapat menenangkan hati dan pikiran air mata pun berhenti.

Dengan berat hati saya berpamitan ke adik dan kakak, tersirat dimata mereka kesedihan karena akan berpisah dimana banyak cerita bahwa ketika seseorang akan berangkat haji bagaikan meuju kematian mengingat beratnya beban yang akan dilalui di tanah suci nanti dan banyaknya yang meninggal. Namun kaki tetap harus melangkah meninggalkan rumah. 

Labbaik Alloohumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wa ni’mata laka wal mulk laa syarika laka.

Tanggal 18 saya berada di Asrama Haji Pondok Gede dengan diantar kakak saya. Sesampainya disana saya lihat masih sepi karena baru beberapa calon jemaah haji yang sudah tiba duluan dengan diiringi keluarga besar mereka. Setelah pembagian kamar, saya menempati kamar yang kebetulan penghuni kamar sebagian besar anggota KBIH di rombongan tiga sehingga saya banyak kenalan. Yang aneh justru saya tidak mengetahui dimana rombongan saya berada maklum karena saya ternyata satu orang yang masuk ke rombongan dua yang utuh tidak dipecah. Istilahnya saya ini nyempil di rombongan dua.  Setelah bertemu dengan karu dan karom 2 saya dibagi uang living cost. Yang jadi masalah adalah besaran uang riyal karena bukan recehan yang tentunya akan kesulitan di tanah suci nantinya.

Saat pembagian bis untuk pergi ke Bandara Soekarno Hatta, saya ditempatkan dengan rombongan tiga di bis 3. Saya tidak tanya, padahal nantinya ternyata ada masalah di tanah suci. Sesampainya di bandara, agak menunggu cukup lama sebelum akhirnya take off.

Labbaik Alloohumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wa ni’mata laka wal mulk laa syarika laka.

Perjalanan Ibadah Haji ( bagian 1 )

Juli 5, 2007

Tadi pagi saya lihat acara Mari ke Tanah suci di Indosiar. Jadi ingat waktu saya ngejalaninnya tahun 2005 ( 1425H ).

Perjalanan haji saya dimulai saat saya merasa mendapat “panggilan” pergi haji. Ceritanya begini :
Waktu saya kerja shift 2 ( mulai jam 4 sore hingga 12 malam ) di bulan Desember 2004, saya ngobrol dengan rekan sekerja. Dia tuh cerita banyak tentang rekan sekantor juga tapi sebagai operator, nah operator ini sudah pergi haji dengan istrinya. Waktu itu saya berpikir, operator saja bisa pergi. Gaji saya tuh dengan dia jauh beda, tapi saya gak berpikir kalau dia itu punya banyak lembur atau penghasilan diluar kantor, yang saya pikirkan ya gaji dia dengan gaji saya. Sampai di rumah, saya gak bisa langsung tidur tapi mikirin tentang operator yang pergi haji itu. Kejadian ini sampai beberapa hari sampai akhirnya saya berdoa ke Alloh. “Ya Alloh saya merasa Engkau memanggilku untuk pergi menunaikan ibadah haji. Aku penuhi panggilanMu Ya Alloh tapi saya gak punya uang. Berilah aku uang dan pendukungnya Ya Alloh”.

Awal Januari saya diminta oleh atasan untuk lembur sebagai pengganti teman yang mengikuti training selama 6 bulan. Saya pikir,”Apa ini jalan untuk mendapatkan uang guna pergi haji?” Kemudian saya mulai hitung hitungan melakukan prediksi jumlah uang yang akan didapat dengan kemungkinan kemungkinan berapa kali saya lembur hingga bulan Juni 2005.

Saya melakukan pencarian informasi mengenai haji, baik di internet maupun bertanya ke teman teman yang sudah pergi haji. Di internet saya menemukan sebuah situs yang dikelola oleh Departemen Agama yaitu http://www.informasihaji.com/ Banyak informasi yang saya dapatkan disana mulai jadwal keberangkatan tahun sebelumnya juga tata cara pembayaran baik langsung maupun melalui tabungan (waktu itu masih berlaku bayar langsung berbeda dengan sekarang dengan peraturan yang mengharuskan melalui tabungan) dan informasi lainnya. Saya mencari juga informasi mengenai BPIH atau Biaya Perjalanan Ibadah Haji tahun sebelumnya selain itu saya juga beli buku mengenai tata cara haji.

Sekitar tanggal 11 Maret 2005 siang saya telepon Informasi haji mau menanyakan mengenai pendaftaran haji, karena saya tinggal di wilayah Kelapa Gading mereka memberikan nomor Kantor Departemen Agama Jakarta Utara. Saya kontak kandepag jakut, penerima telepon bertanya :”Bapak serius mau pergi haji ?” saya jawab:”Iya” penerima telepon mengatakan:”Kalau Bapak serius, buruan Pak daftar, kalau bisa besok karena quota Jakarta hampir habis”. Selesai telepon saya menghitung uang tabungan ternyata belum cukup untuk mendaftar agar mendapatkan porsi yaitu 20 juta rupiah. Saya telepon saudara dan teman, Alhamdulillah ada sekitar 18 juta. Saya berpikir keras kemana lagi harus saya pinjam 2 juta setelah pinjam sana sini baik langsung tatap muka maupun lewat telepon akhirnya ada teman yang bisa meminjamkan namun baru bisa diambil esok harinya yaitu hari Jum’at itupun sekitar jam 9 pagi karena tidak ada lagi yang bisa saya pinjam akhirnya saya setuju.

Hari Jum’at saya pergi menemui teman tersebut dan baru dapat uang tersebut sekitar jam 10-an, saya langsung menuju Bank. Jam sudah menunjukkan jam 11 lewat yang berarti hampir tiba sholat jum’at namun antrian masih panjang. Dalam hati saya berkata : “Ya Alloh janganlah hanya karena saya mau pergi haji saya terlambat menunaikan sholat jum’at.” Alhamdulillah selesai di bank saya menuju masjid. Sesampainya di masjid saya langsung wudhu walaupun masih berkeringat, saya kebagian duduk di pelataran masjid. Lima menit kemudian adzan berkumandang. Alhamdulillah puji syukur saya ucapkan karena saya masih mendapatkan pahala walaupun sedikit dibanding yang datang awal namun jika dibandingkan dengan yang datang setelah adzan berkumandang pahala saya masih besar karena mereka tidak mendapat pahala apapun selain hanya mengugurkan kewajiban sholat jum’at semata. Selesai sholat Jum’at saya langsung ke Kandepag jakut untuk mendaftar dengan membawa bukti foto copy sudah bayar 20 juta. Di kandepag ada meja untuk bayar zakat dan infaq, saya katakan saya sudah bayar zakat dan infaq di tempat lain namun petugas bilang makin banyak infaq kan makin bagus. Akhirnya saya juga infaq disana, ya untung saja saya bawa uang berlebih bagaimana kalau calon jemaah haji yang kebetulan tidak bawa uang berlebih. Selesai di kandepag saya kembali ke Bank, diperjalanan macet saya coba lewat jalan pintas namun saat menaiki trotoar terdengar bunyi “Trakk”. Saya tidak sempat berhenti karena mengejar waktu khawatir quota habis dan terpaksa saya jalankan motor perlahan sambil berdoa “ya Alloh semoga motor gak apa apa dan semoga Engkau ridho dan saya masih dapatkan porsi”. Sesampainya di Bank saya daftar ke CS namun yang saya sesalkan saat itu adalah pegawai CS bilang “Pak dientri ke Siskohatnya nanti agak sore”. Sambil agak emosi saya katakan “Bagaimana kalau dari bank lain mengisinya sekarang dan quota habis” dan pegawainya bilang “ya ketentuannya begitu Pak, nanti kalau sudah dientry kami beri kabar Bapak”. Dengan rasa masygul sambil istighfar saya bicara dalam hati “Ya Alloh kalau Engkau memanggilku tentunya aku akan mendapatkan quota namun jika untuk tahun ini belum semoga Engkau jadikan aku lebih bersabar”. Keluar dari Bank dengan perasaan tak menentu saya pulang ke rumah.

Jum’at sore, hari Sabtu, hari Minggu saya belum dapat kabar juga dari Bank. Senin pagi jam 8 saya berangkat ke bank untuk menanyakan perihal porsi. Namun sebelum sampai, perut saya mulas, langsung saja kembali pulang ke rumah. Selesai itu saya kembali ke bank dengan menggunakan motor, sesampainya di bank saya tanya ke pegawai CS “Pak apa saya dapat porsi haji” pegawai itu mengatakan “ya Pak, Bapak mendapatkan porsi”. “Alhamdulillah” saya panjatkan ke hadirat Alloh. Kemudian pegawai itu mengatakan, “Mohon maaf Pak kemarin belum memberitahu Bapak karena masih ada kendala teknis namun Bapak sudah mendapatkan porsi”. “Gak apa apa Pak” jawab saya.

Beberapa bulan kemudian saya baru tahu kalau saat itu memang tanggal terakhir jatah porsi untuk DKI Jakarta. Saya sangat bersyukur.

PEMBERITAHUAN

Mulai 6 September 2007, blog saya yang berjudul Dunia Fana pindah ke duniafana.com

Bagi pengunjung blog Dunia Fana ini sudilah kiranya mengakses langsung ke situs yang baru.

Artikel artikel yang berada di blog di wordpress ini seluruhnya di upload ke situs blog saya yang baru.

Terima kasih atas perhatiannya.

Aries Purwantoro