Archive for the ‘Pendidikan’ Category

Billionaire II ( game monopoli )

Agustus 3, 2007

Bagi yang sedang belajar dan akan bergelut di bidang investasi baik itu investasi di bidang paper aset, property asset game ini cukup menantang karena kita diajak berpikir dengan modal sedikit berlaku layaknya seperti pebisnis tangguh. Biasanya pebisnis tangguh main monopoli baik ketika masih kecil maupun sudah dewasa seperti halnya Robert Kiyosaki dalam buku Rich Dad Seriesnya

Selain asyik, game ini ada kekurangannya :
1) dana peserta bisa diupdate langsung dari filenya
2) ketika kita membeli property maka pemilik property ( system) dapat mereject permintaan kita sehingga dapat mengurangi modal kita karena tiap penawaran ada costnya sedangkan ketika orang lain membeli property kita maka langsung disetujui oleh system tanpa kita dapat merejectnya jika kita tidak menyetujui.
3) Tidak bisa dimainkan secara network namun hanya bisa dimainkan oleh 4 orang dalam satu PC ( tergantung pilihan)

Terlepas dari kekurangannya game ini tetap asyik dimainkan karena semacam monopoli, anggap saja jika dalan kehidupan nyata pun ada intrik intrik kehidupan justru dengan ini kita ditantang untuk menmenangkan pertarungan. Ada versi demonya atau free trialnya. Untuk membeli serial numbernya diperlukan uang USD 19.95

Dapat di didownload di http://www.gameonsoftware.com/billion2

Iklan

Mahalnya sebuah pendidikan

Juli 30, 2007

Bagi kebanyakan siswa jika diterima di perguruan tinggi terkenal merupakan dambaan dalam hidupnya. Tidak peduli apakah siswa berasal dari Indonesia maupun negara lainnya bahkan negara maju sekalipun seperti Amerika Serikat.

Dalam acara absolute 20/20 yang ditayangkan metro tv hari jum’at tanggal 27 juli 2007 diceritakan bahwa salah seorang calon mahasiswa yang bernama Jan Lee mempunyai nilai SAT 2400 ( saat wawancara dikatakan merupakan nilai tertinggi di Amerika ) tidak diterima di berbagai perguruan tinggi terkenal seperti Yale, Stanford, MIT dan perguruan tinggi terkenal lainnya. Setelah diselidiki ternyata yang menjadi dasar penolakan adalah karena kendala financial dari keluarga Jan Lee.

Untuk memasuki perguruan tinggi terkenal selain faktor financial juga dilihat dari apakah ada dari keluarga mereka entah ayah atau kakek merupakan alumni dari perguruan tinggi tersebut. Sebagai contoh presiden Amerika George Bush, keluarga Bush merupakan alumni dari Universitas Yale.

Ada istilah bagi siswa yang akan mendaftarkan ke perguruan tinggi yaitu pendaftar berkembang dimana yang termasuk kategori ini adalah siswa yang tidak menonjol dalam hal akademis namun dia termasuk dari golongan kaya, sebagai contoh Ralph Laurent. Selain karena financial dan pendaftar berkembang juga ada siswa yang diterima karena orangtuanya mempunyai pengaruh dan juga kekuasaaan.

Ternyata tidak peduli apakah negara berkembang maupun negara maju. Pendidikan yang layak dan bagus hanyalah dinikmati oleh orang orang dengan kondisi financial yang bagus. 

Tidak kuliah di perguruan tinggi terkenal bukan berarti akhir dari segalanya karena pada dasarnya yang diperlukan adalah kegigihan dari siswa yang bersangkutan dalam menggali potensi diri untuk maju atau tidaknya. Banyak sumber daya yang bisa dipergunakan untuk mengembangkan diri misal perpustakaan, internet karena internet adalah dunia tanpa batas.

Jadilah orang kreatif untuk menjadi orang yang berpendidikan dan maju.

Antara pena dan perut

Juli 19, 2007

Bergulirnya demo para guru yang menginginkan terealisasinya alokasi dana pendidikan sebesar 20% dari APBN melahirkan kegembiraan sekaligus kecemasan.

Kegembiraannya adalah meningkatnya perhatian pemerintah atas dunia pendidikan di Indonesia dengan dialokasikannya dana sehingga diharapkan mutu lebih meningkat baik dari segi kesejahteraan para pengajarnya maupun dari segi kualitas siswa serta pengajar dan terutama adalah infra struktur yang selama ini banyak yang mau runtuh dapat dibetulkan atau dibangun kembali. Sehingga ketika alokasi dana tersebut belum terealisasi, para guru yang “merasa berhak” menuntut untuk segera direalisasikan. Namun kenapa tidak serentak dilakukan oleh semua guru? Bukankah ada organisasi para guru, kalau tidak salah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Kenapa tidak menyalurkan lewat organisasi yang resmi ? Lain halnya kalau ada demo guru di luar negeri hampir semua elemen guru ikut serta ( menurut berita di TV).

Disamping kegembiraan juga terdapat kecemasan karena dengan demikian sekolah tepatnya murid-murid dimana gurunya pergi demo tentu tidak mendapatkan pembelajaran dan pendidikan yang juga menjadi “hak” para murid. Padahal orangtua mereka sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Entah hutang atau banting tulang entah bagaimana lagi cara mereka mendapatkan uang untuk membayar biaya sekolah anak anak mereka. Sudahkah para guru yang demo memikirkan hal yang demikian ?

Selain demo menuntut realisasi alokasi dana pendidikan juga ada demo para guru dimana para guru melakukan demo karena sang kepala sekolah arogan. Lagi lagi para murid yang jadi korban.

Kapan dunia pendidikan kita akan maju ?