Jabat Tangan ( Bersalaman )

Hari ini hari Jum’at sehingga ada kewajiban bagi umat Islam untuk menunaikan sholat Jum’at. Jika datang ke masjid dan menunggu waktunya lebih pagi maka semakin banyak pahala yang dia dapatkan, semakin mendekati waktunya tentu makin sedikit. Yang sungguh menyedihkan adalah banyak umat Islam yang hanya menggugurkan kewajiban saja yaitu dengan datang ke masjid setelah khotib ke atas mimbar.

Setelah sholat attahiyatul masjid, banyak orang yang melakukan salaman atau jabat tangan. Ada yang mempunyai pemahaman bahwa jabat tangan dilakukan hanya ketika bertemu maupun berpisah namun ada juga yang ketika selesai sholatpun tidak apa apa. Mana yang benar, tentunya jika keduanya mempunyai keterangan, berarti bagian dari ikhtilaf ( beda pendapat ).

Ada hal yang sangat disayangkan ketika orang berjabat tangan. Lihatlah perilaku mereka yang berjabat tangan mulai dari pejabat tinggi hingga rakyat kecil. Ketika bersalaman mereka bukannya bertatap mata namun wajah dipalingkan  kemana saja, lucunya lagi kalau mau difoto, tangan mareka berjabatan tapi wajah ke kamera. Coba Anda perhatikan, ketika setelah jamaah di sebelah Anda sholat dia mengajak bersalaman kepada Anda namun ketika kita menjulurkan tangan untuk bersalaman, spontan wajahnya langsung dibuang sehingga ketika kita bersalaman tanpa beradu pandang.

Lain halnya dengan budaya Sunda, ketika bersalaman dengan saling menempelkan kedua telapak tangan, lalu ditempelkan ke hidung dulu kemudian ada yang bersalaman benar benar bersalaman, tangan bertemu tangan dan beradu pandang namun ada juga yang beradu pandang namun ketika bersalaman hanya ujung kukunya saja yang kena.

Saya pernah baca seorang Ulama besar ( lupa orang Indonesia atau bukan ), ketika ada yang mengajak bersalaman kemudian Ulama tersebut menjulurkan tangan namun ketika itu pula yang mengajak membuang muka dan saat itu pula tangan Ulama ini berhenti dan tidak jadi bersalaman. Karena tidak disambut tangannya tentunya dia balik melihat Ulama itu dan bertanya kenapa tidak bersalaman. Dengan dijawab penuh kesopanan Ulama itu mengatakan karena yang salaman itu tangan Anda bukan Anda, wajah Anda tidak melihat ke saya.

Ingin juga saya mempraktekkan seperti halnya yang Ulama besar itu lakukan namun kadang saya berpikir juga apakah orang yang mengajak bersalaman itu mau menerima diperlakukan begitu. Yang saya contohkan adalah seorang Ulama besar sehingga bisa dianggap memberi contoh, nah kalau saya hanya rakyat biasa. Intinya cobalah jika bersalaman itu selain tangan bertemu tangan juga beradu pandang.

Iklan

Satu Tanggapan to “Jabat Tangan ( Bersalaman )”

  1. zidaburika Says:

    Iya mas, menurut pendapat saya, Inti setiap tindakan harus bermula dengan hati. jadi bukan sekedar ritual formal. Jadi, jika setiap tindakan senantiasa melibatkan hati, pasti wujud tindakan akan menampakkan keseriusan & kesungguhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: