Perjalanan Ibadah Haji ( bagian 4 )

Di masjid Nabawi diberlakukan sistem tutup menggunakan sekat maksudnya jika shof depan sudah penuh maka dibagian roudhoh itu diberi sekat sampai beberapa shof sebelah kiri.  Mungkin kalau di Indonesia seperti pemisahan antara laki-laki dan perempuan. Penggunaan sekat di masjid Nabawi dimaksudkan juga untuk para wanita yang ingin mendapatkan tempat di roudhoh ketika mulai waktu dhuha hingga pukul 11 siang namun bukan berarti untuk jamaah laki-laki tidak ada tapi roudhoh dibagi dua, depan untuk laki laki dan belakang untuk wanita. Jika mau ke tempat roudhoh berputar dari arah kanan ke tengah, namun masih di dalam mesjid. Gak kebayang yah….. kalau mau kebayang…ya pergi haji 😀 

Lama banget menunggu sholat subuh….bayangin coba (hmmm ntar dibayangin dulu) dari jam 2 dini hari dan ternyata sholat subuh jam 5.30 pagi karena di arab saudi pas desember itu siangnya dikit gak kayak di Indonesia panasnya lama. Dingin banget…untung pakai jaket tebal dan sarung tangan…ya sambil nahan pengen pipis akhirnya datangnya juga waktu adzan subuh (Bagi yang “beser” mungkin agak menjadi suatu penderitaan ketika berada di tempat yang dingin namun usahakan ditahan soalnya jika keluar masjid untuk buang air kecil kemungkinan masuk lagi ke masjid itu kecil sekali tapi kalau sudah tidak tahan ya gimana lagi). Muadzdzin melafadzkan adzan begitu mengena ke hati. Saat sholat subuh, imam ketika selesai Al Fatihah membaca amin secara cepat tapi para jemaah yang kebetulan dari asia tenggara sudah banyak, membacanya aaaamiiiin secara panjang persis seperti yang dilakukan jemaah ketika sholat di Indonesia.

Selesai sholat subuh saya menunggu supaya agak sepi baru saya ke roudhoh. Alahmdulillah saat dhuha saya bisa ke roudhoh dan melakukan sholat serta mengaji Al Qur’an. Saya panjatkan doa, mohon ampunan bagi saya, almarhum orang tua dan doa lainnya. Sambil meneteskan air mata saya bisa berdoa di tempat yang maqbul.

Selepas sholat saya mengunjungi makam Rosululloh saw sambil berdoa dan memberikan salam serta sholawat bagi rosul dan keluarga. Para penjaga sibuk menghardik para jemaah yang mengelus eluskan tangannya ke tembok sambil berkata “haram”. Sangat berdesak desakkan tatkala saya ingin keluar masjid karena keluar roudhoh lewat ke kiri melewati makam rosul dimana jalur ini padat dipenuhi para jemaah, kemudian selesai mengunjungi makam rosul saya lurus keluar masjid.

Keluar masjid lewat kiri saya mencari warung untuk sarapan.  Beli roti isi daging seharga 3 riyal dan kopi seharga 1 riyal ( 1 riyal berkisar antara Rp 2300 – Rp 2700, saran: untuk membeli riyal jangan pas lagi musim haji, mahal lebih baik sekitar bulan maret-mei biasanya harga murah dan bakalan dapat yang recehan 1-20 riyal). “Murah..murah..bagus..bagus” itulah ucapan para pedagang kaki lima orang arab apalagi kalau melihat orang indonesia karena orang indonesia terkenal sering belanja.

Hotel tempat saya tinggal terletak dibelakang masjid nabawi,  karena saya di barisan shof depan akhirnya saya keluar lewat kiri dan ini berarti saya bakal ketemu para jemaah wanita dan ternyata Alhamdulillah betapa Alloh menciptakan wanita cantik dari berbagai bangsa terutama Pakistan, India, Arab dan Turki(saya sedikit sekali melihat gadis gadis Indonesia karena kebanyakan calon jemaah haji asal Indonesia sudah berusia lanjut lain halnya dari negara lain).  Saat jalan kepala mau ditundukkan takut nabrak, gak ditundukkan kepala nanti gimana akhirnya sambil agak kepinggir mendekati warung, saya berjalan menuju hotel. Akan tetapi mata tetap “sedikit nakal”  🙂

Sampai di hotel saya berkenalan dengan rombongan saya. Di Madinah di atur bahwa laki-laki dipisahkan dengan wanita, ini hasil kesepakatan bersama. Saya bersama sama dengan 5 bapak bapak. Saya mendapatkan kamar di lantai paling tinggi yaitu lantai 14.  Ada untungnya , ada ruginya. Untungnya kalau turun pasti lift dalam keadaan kosong sedang kan kalau di lantai yang dilalui akan mengantri sampai mendapatkan lift yang kosong. Yang lucunya informasi dari Departemen Agama Jakut saat manasik bahwa orang Arab menghargai tamu jika ditempatkan paling tinggi di sebuah hotel ( entah benar atau tidak, wallohu A’lam) namun bagi para jemaah ingin paling bawah supaya tidak terlalu lama kalau ke masjid. Ruginya kalau pas pulang agak lama nyampai ke kamarnya tapi dengan saya ditempatkan di wilayah Markaziyah saja merupakan keberkahan dari Alloh mengingat waktu saat itu masih menggunakan sistem subsidi silang, kalau sekarang proporsional.

Saya telepon ke rumah bahwa saya sudah sampai dan sudah berdoa di roudhoh. Saya diberitahu bahwa di Bandung sudah dilaksanakan hajat. Banyak tetangga yang kaget saya pergi haji. Saya memang sengaja tidak memberitahu mereka sebagai kejutan demikian juga kepada saudara saudara. Saya melakukan hajat sebelum dan sesudah pergi haji hanyalah salah satu bentuk mengucapkan syukur ke Alloh atas nikmat yang tidak terhingga yaitu menjalankan rukun islam yang kelima, menunaikan ibadah haji dan  selamat sampai di rumah dan tentunya mengharapkan haji mabrur. aamiin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: