Perjalanan Ibadah Haji ( bagian 3 )

Menggunakan Garuda Indonesia terbang menuju Kota Madinah Al Munawaroh karena gelombang pertama dari Jakarta bisa langsung menuju Madinah ( ini berlaku kalau tidak salah untuk tiga embarkasi yaitu Jakarta, Surabaya dan Medan)  sedangkan yang lain ke Jeddah terlebih dahulu.

Diatas pesawat, pramugari dengan ramahnya melayani para calon jemaah haji. Saat jam tidak melayani saya bercakap cakap dengan para pramugari.

Terlihat pemandangan indah hamparan awan yang meliputi bumi.  Ingin rasanya mengabadikan namun sayang kamera saya tidak cukup untuk menangkap fenomena alam tersebut. Banyak yang tidak membawa kamera bagus karena pada saat saya pergi belum diperbolehkan membawa kamera dan banyak cerita nyata dimana kamera yang ketahuan oleh tentara atau polisi langsung dibanting didepan mata namun sekarang karena untuk menggalakkan pariwisata Arab Saudi diperbolehkan hanya saja untuk memotret didalam dua masjid yaitu masjid nabawi dan masjidil Harom tidak diperbolehkan karena dikhawatirkan bukan beribadah melainkan berfoto ria.

Alam, pesawat, awak pesawat dan penumpang adalah bagian dari suatu penerbangan. Penumpang dengan tingkah lakunya terkadang membuat lucu jika kita melihatnya namun terkadang juga menyebalkan bahkan menjijikkan yang lebih parah adalah membahayakan keselamatan penerbangan karena beragam pendidikan dan latar belakang dari penumpang tersebut. Ini terjadi karena kurangnya sosialisasi Departemen Agama atau pembimbing KBIH ( bagi yang tidak melakukan sosialisasi ) tentang tata cara di pesawat terbang.  Saya melihat banyak hal lucu seperti tidak tahu cara membuka atau menutup pintu toilet, cara menggunakan air atau tissue untuk istinja mengingat jatah air yang sedikit. Namun ada juga resiko bahaya yang besar ketika air tercecer menggenangi  lantai dan ini terjadi di pesawat yang saya tumpangi, segera saya beritahu pramugari untuk membersihkannya. Yang menjijikkan adalah toilet bekas istinja disimpan di barisan toilet bersih bukan dibuang padahal jelas disitu ada plastik besar dan terlihat untuk sampah. Inilah sebagian dari kejadian di pesawat yang tentunya merupakan pekerjaan rumah baik bagi Departemen Agama maupun KBIH yang hendaknya selain memberikan manasik haji juga tata cara di pesawat sehingga selain aman juga nyaman dan selamat sampai di tujuan.

Tiba di bandara Madinah sekitar pukul 11 malam waktu setempat. Di sini mulai timbul masalah, saat di pesawat di instruksikan bahwa calon jemaah menggunakan bis yang sesuai saat keberangkatan dari pondok gede ke terminal namun ternyata melebihi. Supir tidak mau menjalankan bis, karena memang peraturan mereka seperti itu. Saya dan sepasang suami istri yang sama sama rombongan 2 bingung karena rombongan 3 mengatakan kami seharusnya menggunakan bis 2 tapi kami bersikukuh saat di indonesia kami menggunakan bis 3. Namun entah bagaimana semua bis jadi berangkat ke hotel. Alhamdulillah kami berada di daerah markaziyah yaitu daerah sekitar radius kurang dari 500 meter dari masjid Nabawi dan tepatnya kami menempati hotel Anshor Diamond kurang lebih 75 m dari masjid Nabawi. 

Tiba di hotel masih bingung karena saya tidak tahu rombongan saya di kamar dan lantai berapa. Namun saya berpikir toh akhirnya nanti saya mendapatkan kamar hanya perlu bersabar. Saat sedang mencari koper, saya bertemu dengan Karu dan akhirnya saya mendapatkan kamar. Alhamdulillah.

Setelah istirahat sebentar, kami pergi ke masjid sekitar jam 2 dinihari, namun kami mendapati pintu masjid masih dikunci(belakangan saya baru tahu bahwa masjid Nabawi tidak buka 24 jam seperti Masjidil Harom namun ditutup jam 11 malam dan dibuka beberapa jam sebelum sholat subuh).  Kurang lebih jam 4 pintu dibuka, tampak para jemaah berlarian menuju roudhoh termasuk saya. Namun setelah sampai shaf terdepan tampak di daerah roudhoh sudah penuh akhirnya saya kebagian tempat di beberapa baris dibelakang roudhoh. (note= roudhoh itu tempat dikabulkannya doa dan terletak diantara makam nabi Muhammad saw dan mimbar beliau yaitu sekitar 15 m x 20 m. bila ingin lebih jelas lihat pilar-pilar yang berada di roudhoh itu berbeda warnanya dengan tempat lain demikian juga karpetnya berwarna hijau sedangkan yang lain berwarna merah).

Roudhoh tempat makbul doa

Setelah sholat attahiyatul masjid dan mengaji Al quran… saya hanya termenung melihat keindahan masjid dan merenung dimasa rosul menjalankan perintah Alloh. Yang saat itu masjid masih ditutupi pelepah korma kini dilapisi dengan emas murni. Sholawat dan salam bagi baginda rosul dan keluarganya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: