Perjalanan Ibadah Haji ( bagian 2 )

Bulan Juli ( kalau tidak salah)  saat pelunasan BPIH, di hari pertama pelunasan satu dolar mencapai 9500 rupiah. Saya melunasi saat satu dolar mencapai 8750 rupiah. Sehingga total BPIH saya sekitar 24.500.000 rupiah.

Pada bagian 1 saya menulis meminjam uang ke teman maupun saudara. Teman saya bertanya mengenai pergi haji berhutang, saya katakan bahwa pergi haji berhutang berarti dikategorikan belum mampu sedangkan yang saya lakukan adalah untuk mendapatkan porsi dan hutang itu akan dibayar sebelum saya pergi haji sehingga ketika pergi haji saya tidak dalam keadaan berhutang.

Saya pergi haji dengan status haji mandiri maksudnya pergi haji tanpa KBIH ( Kelompok Bimbingan Ibadah Haji ).  Mendapat bimbingan manasik haji dari Kandepag Jakut. Ada hal yang lucu yaitu karena sebagai bujangan yang pergi haji beberapa ibu-ibu menawarkan putrinya untuk menjadi istri saya. Saya hanya tersenyum saja. Begitulah kalau bujangan pergi haji  🙂

Saat manasik saya ditunjuk sebagai ketua regu. Para jemaah haji mandiri dibagi beberapa rombongan. Satu rombongan terdiri dari empat regu dan satu regu terdiri dari sebelas orang (satu kepala regu(karu)  dan sepuluh anggota) sehingga jumlah satu rombongan adalah empat puluh lima orang termasuk ketua rombongan(karom). Banyak yang tidak mau menjadi ketua baik sebagai karu maupun sebagai karom. Padahal kalau mau dipikir selain menjalankan ibadah haji, sebagai karu/karom dia beramal tenaga dan pikiran. Hal ini akan terasa baik ketika masih di Indonesia maupun di tanah suci nantinya. 

Tatkala mau berangkat, sesuai dengan undian saya termasuk ke dalam kelompok terbang (kloter) 3.  Saat melihat hasil undian di kandepag,  agak susah mencari karena ternyata banyak rombongan  yang dipecah termasuk rombongan saya. Saya sempat sedih apa jangan-jangan nama saya tidak tercantum mengingat pernah ada kejadian suami istri dimana istri ada namun suami tidak ada. Sambil menenangkan hati dan pikiran serta berdoa akhirnya saya temukan dimana nama saya tercantum di rombongan dua.

Empat hari menjelang keberangkatan yaitu tanggal 15 Desember 2005 saya cuti. Saya berpamitan ke teman-teman kantor namun banyak yang tidak percaya kalau saya mau pergi haji mengingat saya masih bujangan dan tidak ada tampilan seperti layaknya keluaran pesantren istilahnya “anak nakal”. Kemudian saya pulang ke Bandung terlebih dahulu untuk minta maaf kepada keluarga. Saya mencoba untuk tidak menitikkan air mata di depan saudara terlebih karena kedua orang tua saya sudah meninggal sehingga sangat terasa getaran jiwa didada tatakala seusai sholat hajat dan safar. Tak terasa air mata begitu deras keluar dari mata ini. Sambil bertanya kepada Alloh “Ya Alloh kenapa saudara saya yang rajin sholat wajib, tahajud, rajin mengaji Al Quran tidak berangkat haji sedangkan saya, sholat pun istilahnya lekum lekum gajleng. Kenapa saya yang dipilih ya Alloh……. ” Agak lama uraian air mata keluar. Setelah berapa lama dan mulai dapat menenangkan hati dan pikiran air mata pun berhenti.

Dengan berat hati saya berpamitan ke adik dan kakak, tersirat dimata mereka kesedihan karena akan berpisah dimana banyak cerita bahwa ketika seseorang akan berangkat haji bagaikan meuju kematian mengingat beratnya beban yang akan dilalui di tanah suci nanti dan banyaknya yang meninggal. Namun kaki tetap harus melangkah meninggalkan rumah. 

Labbaik Alloohumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wa ni’mata laka wal mulk laa syarika laka.

Tanggal 18 saya berada di Asrama Haji Pondok Gede dengan diantar kakak saya. Sesampainya disana saya lihat masih sepi karena baru beberapa calon jemaah haji yang sudah tiba duluan dengan diiringi keluarga besar mereka. Setelah pembagian kamar, saya menempati kamar yang kebetulan penghuni kamar sebagian besar anggota KBIH di rombongan tiga sehingga saya banyak kenalan. Yang aneh justru saya tidak mengetahui dimana rombongan saya berada maklum karena saya ternyata satu orang yang masuk ke rombongan dua yang utuh tidak dipecah. Istilahnya saya ini nyempil di rombongan dua.  Setelah bertemu dengan karu dan karom 2 saya dibagi uang living cost. Yang jadi masalah adalah besaran uang riyal karena bukan recehan yang tentunya akan kesulitan di tanah suci nantinya.

Saat pembagian bis untuk pergi ke Bandara Soekarno Hatta, saya ditempatkan dengan rombongan tiga di bis 3. Saya tidak tanya, padahal nantinya ternyata ada masalah di tanah suci. Sesampainya di bandara, agak menunggu cukup lama sebelum akhirnya take off.

Labbaik Alloohumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wa ni’mata laka wal mulk laa syarika laka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: